Semua berita seputar kampus IPB (unofficial)

Web Masih Lemot ?

Rabu, 19 Agustus 2015



Mohon maaf jika post kali ini lugas untuk masalah karir setelah lulus dari perguruan tinggi, bukan maksut untuk mengecoh atau maksut jahat lain, ini adalah salah satu bentuk upaya memajukan dan memotivasi terciptanya para pengusaha baru diindonesia dari lulusan perguruan tinggi bonafit tersebut agar tercipta lajur ekonomi yang seimbang hehe.
Sindiran ini saya rasa ditujukan untuk yang berlama-lama menjadi pegawai karyawan, tidak berniat untuk menjadi pengusaha.

Oke,...
Dengan ungkapan yang singkat tersebut terkadang ada yang kurang lengkap dalam memahaminya, untuk menjadi pengusaha juga dibutuhkan pengalaman dan pengetahuan, jadi diperlukan menjadi karyawan/ pegawai terlebih dahulu untuk belajar dan mendapatkan pengalaman, setelah dirasa cukup baru memulai berwirausaha sendiri, beralih menjadi pengusaha.
Pegusaha atau wirausahawan memiliki makna yang luas, pemilik toko kelontong kecil-kecilan juga bisa disebut wirausahawan, sekarang bisa dibandingkan antara pegawai dan pemilik toko kelontong kecil-kecilan tentunya penghasilannya tidak bisa dipastikan, bisa dimungkinkan penghasilannya lebih besar pegawai yang bersepatu, berpakaian rapi.

Jadi untuk kata-kata diatas menurut saya sindiran bagi yang berlama-lama menjadi karyawan atau pegawai.

Perguruan Tinggi Harus Ubah Mindset Mahasiswa, Dari Karyawan Menjadi Owner !
Mayoritas lulusan perguruan tinggi, masih berorientasi pada hal mencari pekerjaan, terutama menjadi pegawai negeri sipil yang merupakan profesi paling diminati.
NERACA
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah wirausahawan di Indonesia pada tahun 2012 mencapai 1,56% dari jumlah populasi yang ada. Padahal idealnya Indonesia harus memiliki sedikitnya 2% usahawan dari jumlah penduduk agar mampu menyediakan lapangan kerja yang cukup.
Nah, guna mendorong pertumbuhan ekonomi ke angka yang lebih baik, keterlibatan kalangan akademisi dan alumni perguruan tinggi mutlak diperlukan. Sempitnya lapangan pekerjaan dan semakin besarnya tuntutan ekonomi, tentunya hal tersebut harus mendorong bagi seseorang khususnya mahasiswa untuk berani membuka usaha atau berwirausaha.
Sayangnya, mayoritas lulusan perguruan tinggi, khusunya IPB masih berorientasi mencari pekerjaan, terutama menjadi pegawai negeri sipil. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan persentase alumni yang berwirausaha setelah lulus kuliah yang ditunjukkan dari sebaran status kerja yang berwirausaha berjumlah kurang dari 5%.

Padahal, minat untuk wirausaha di kalangan mahasiswa cukup tinggi, itu terlihat dari antusiasme dalam mengikuti program kewirausahaan yang ada di kampus. Tetapi faktanya, setelah lulus ternyata hanya sedikit yang menjadi wirausaha.

Melihat kenyataan tersebut, Wakil Rektor Bidang Sumber Daya dan Pengembangan IPB Prof Hermanto Siregar mengatakan, mahasiswa harus bisa kreatif dan inovatif serta berpikir bukan lagi untuk mencari pekerjaan tapi bagaimana bisa membuka lapangan pekerjaan."Ya, untuk IPB 10% saja tentu akan memberi efek luar biasa. Mereka dapat membantu beban pemerintah dengan membuka lapangan kerja baru," katanya di Bogor, Jawa Barat, Jumat.

Pengembangan jiwa kewirausahaan menjadi salah satu titik penting bagi pembinaan kemahasiswaan di dunia kampus. Hal ini dikarenakan mahasiswa memiliki potensi yang luar biasa dalam bidang kewirausahaan. Oleh karena itu, perguruan tinggi harus mendukung berbagai kegiatan Direktorat Pengembangan Karir dan Hubungan Alumni IPB.

Seperti dalam acara Studium Generale "Pembekalan Pra Wisuda" di Kampus Darmaga yang dilaksanakan belum lama ini. Dalam kegiatan tersebut, IPB mendatangkan praktisi wirausaha yang juga alumni IPB, yakni pendiri Misterblek Kopi, Basri Adhi untuk memberikan motivasi serta pengalaman kepada mahasiswa.

Mahasiswa berada pada proses menuju pendewasaan befikir dan persiapan menuju kehidupan pasca-kampus serta ditunjang dengan semangat generasi muda yang memiliki potensi sangat besar untuk mulai berwirausaha, dimana usia mendirikan usaha terlihat cukup potensial pada usia 20-24 tahun. Hasil penelitian terbaru membuktikan bahwa usia wirausahawan berkolerasi signifikan terhadap kesuksesan usaha yang dijalankan.
Berpijak dari hal itu, Basri mengimbau bagi alumni yang ingin menjadi wirausahawan, agar berlatih sejak dini. Bila perlu, para wisudawan baru membuat resolusi hidup atau cita-cita. Hal ini supaya mempunyai tujuan dan mimpi yang jelas.

Dalam kesempatan itu, Basri Adhi juga menyatakan bahwa skripsi mahasiswa ternyata bisa menjadi sumber inspirasi dalam berwirausaha, karena tidak jarang menyajikan ide dan pemikiran yang inspiratif. Ia mengaku mendapatkan formula terbaik Misterblek Kopi setelah mempelajari skripsi salah seorang mahasiswa Teknologi Pertanian IPB."Kalau anda ingin mendapatkan ide-ide kreatif, silakan datangi perpustakaan. Seluruh skripsi di perpustakaan IPB dapat menjadi peluang usaha," ujarnya.

Dikutip:
http://www.blogagus.com/2015/02/sindiran-pengusaha-untuk-pegawai.html
http://www.neraca.co.id/article/23398/perguruan-tinggi-harus-ubah-mindset-mahasiswa-dari-karyawan-menjadi-owner


Regards,
wartaipb.com

Digital Innovation Lounge (DILo) Bogor adalah tempat yang berfungsi sebagai creative camp bagi komunitas digital yang berada di kota Bogor dan sekitarnya. DILo bertujuan untuk meningkatkan kualitas para startup industri kreatif digital dengan menyediakan co-working space, meeting room, business lounge dan mengadakan program kegiatan seperti workshop, matchmaking, dan lomba yang semuanya berbasis digital kreatif.



Industri Kreatif Digital termasuk:

• Game Industry
• Education Software Industry
• Digital Music Industry
• Animation Industry
• Software & Application Industry


Segera daftarkan dirimu dan Startupmu di Dilo :

Digital Innovation Lounge (DILo) Bogor
Gedung OPMC Telkom
Jl. Pajajaran No. 39 Bogor
Tlp : +622518314263
Fax : +622518394476
e-mail : dilobogor@gmail.com
Web : www.bogor.dilo.id
Twitter : @DILoBogor
Instagram : http://instagram.com/dilobogor
FB Group : http://on.fb.me/1DLcAJY


Regards,
wartaipb.com

Selasa, 18 Agustus 2015

Berdasarkan apa yang sedang booming sekarang, dunia bisnis memang bias jadi lading untuk orang yang punya banyak ide dan ketrampilan. Kali ini kita akan membicarakan bisnis yang satu ini bisnis yang menarik dan manis tentunya. 
Chocoofaza, kali ini kita cari tau bisnis coklat yang bernama Chocoofaza, ya ini merupakan salah satu produk olahan coklat asli produksi Indonesia yang didirikan oleh empat mahasiswa IPB yakni Aldi Maulidiansyah, Zakki Mubarok, Famulla Royaldi, Tufik Nugraha Agassi. Kata “Faza” sendiri adalah akronim dari ke empat nama para pendiri Chocoofaza. Saat ini, Chocoo Faza dijalan oleh Aldi Maulidiansyah, Zakki Mubarok, dan Rininta Suci.
Inspirasi Chocoofaza berawal ketika Zakki Mubarok dan rekan-rekannya memelajari mata kuliah “Teknologi bahan penyegar” ketika semester lima perkuliahan di IPB jurusan Teknologi Industri Pertanian. Salah satu bahan penyegar yang paling populer di masyarakat Indonesia adalah coklat dan kopi. Dengan melihat peluang pasar, akhirnya mereka memutuskan untuk menggunakan coklat sebagai bahan baku dasar. Sebagaimana kita tahu kita dalah salah satu pengekspor kakao (biji coklat) terbesar di dunia bersama Brazil. Sayangnya, sebagian kualitas kakao terbaik Indonesia kita ekspor tanpa diolah terlebih dahulu dan nantinya kita impor kembali setelah diolah oleh negara asing, ironis ! Pertanyaannya, mengapa tidak kita olah sendiri ? Hal itu lah yang terlintas di kepala para pendiri Chocoofaza. Mereka ingin generasi muda untuk terjun ke dunia wirausaha, khususnya menjadi Technopreneur, wirausaha yang berbasiskan teknologi.
Mereka bias raup omset sekitar 30-40 jt perbulan, luar biasa bukan ?
Mereka ingin menunjukkan bahwa Indonesia juga dapat maju di bidang teknologi. That’s the spirit ! ujar para pengusaha ini dalam blog pribadinya.
Kita harus support para pengusaha ini, karena dari sinilah, seorang pengusaha adalah seorang yang hebat, mereka berani berdiri dengan kaki sendiri. Membuat hal baru dan memperkenalkan pada semua orang, mereka punya ide, punya mimpi dan mereka memberitahukan kepada semua orang tentang ide dan mimpi mereka. Dan satu hal mereka adalah orang-orang Pemberani !
Hidup para pengusaha Indonesia, Banggakan amamatermu di tanah Air, dan Dunia.
Kunjungi website mereka di http://chocofaza.com/

Regards,
Wartaipb.com


Berdasarkan keputusan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi merilis hasil klasifikasi dan pemeringkatan perguruan tinggi di Indonesia. Direktur Jenderal Kelembagaan Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Pendidikan Tinggi Kemenristek Dikti Patdono Suwignjo mengatakan pemeringkatan ini dilakukan untuk memberikan informasi kepada masyarakat

Berikut ini daftar sebelas perguruan tinggi terbaik di Indonesia beserta skornya:
1. Institut Teknologi Bandung (3,743)
2. Universitas Gadjah Mada (3,690)
3. Institut Pertanian Bogor (3,490)
4. Universitas Indonesia (3,412)
5. Institut Teknologi Sepuluh Nopember (3,289)
6. Universitas Brawijaya (3,217)
7. Universitas Padjadjaran (3,075)
8. Universitas Airlangga (3,064)
9. Universitas Sebelas Maret (3,035)
10. Universitas Diponegoro (2,983)

11. Universitas Hasanuddin (2,978)

Disitu IPB Mendukuki peringkat ketiga diatas universitas Indonesia.
hasil riset ini diambil berdasarkan data yang didapat dari laporan perguruan tinggi Indonesia di Pangkalan Data Perguruan Tinggi dan data eksternal Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BANPT) per Desember 2014. Kementerian memberi skor dari skala 1 sampai 4 terhadap pemeringkatan ini.

Hasil tersebut ditentukan oleh beberapa kriteria untuk universitas, yaitu :
1. Kualitas Dosen atau Sumber Daya manusia.
2. Kualitas Manajemen dan organisasi.
3. Kualitas Kegiatan Kemahasiswaan.
4. Dan Kualitas Publikasi Ilmiah,

Dan dari kualitas publikasi inilah universitas bisa dikatakan baik, karena publikasi ilmiah menunjukkan sebuah universitas aktif dalam kerjasama dengan Badan Pendidikan dan sangat membantu dalam hal pendataan, dari publikasi ilmiah atau laporan ilmiah tersebut, unversitas bisa dilihat perkembangannya oleh Badan Pendidikan.


Regards,
wartaipb.com

Kamis, 13 Agustus 2015


Kami kutip dari sebuah blog pribadi yang penuh inspiratif, yang mungkin bisa menjadikan inspirasi untuk kita semua, menjadi tauladan terutama untuk mahasiswa baru Institut Pertanian Bogor (IPB).

Pararawendy Indarjo, adalah pemuda dari salah satu kota di Kalimantan Tengah yang bertemu dengan bidikmisi. Anak kedua dari tiga bersaudara dari Bapak Sularjo, adalah pegawai lapang pada bagian perencanaan dari salah satu BUMN yang bergerak dalam bidang kehutanan. Sedangkan Ibu bernama Asih Indarti, sibuk mengurus rumah alias ibu rumah tangga. Sedikit membahas pekerjaan Bapak sebagai pekerja lapang, menghitung luasan lahan, mengukur diameter batang pohon, menebas semak untuk membuka lahan perusahaan adalah tugas utama yang menjadi rutinitas yang beliau jalani sebagai pekerjaan yang dicintainya sejak tahun 1984 beliau memutuskan merantau ke kalimantan. Sekali-dua, beliau juga ikut membantu proses pemanenan/penyadapan karet perusahaan. Layaknya pekerja lapang pada umumnya, sedikit (kalau tidak mau dibilang tidak ada) yang bisa dibanggakan tentang penghasilan bapak. Singkatnya, keluarga kami adalah keluarga yang sederhana, ujarnya dalam tulisan blog pribadinya. Mungkin, kelihaian ibu me-manage keuangan keluarga lah yang membuat kami, ketiga anaknya dapat bersekolah laiknya anak-anak lainnya, bahkan menyekolahkan kakak saya hingga jenjang D3.
Dalam kutipan blog pribadinya Pararawendy menceritakan perjalanan hidupnya hingga mencapai pencapaian sampai saat ini. 

Memang, jika coba membandingkan keadaan ekonomi, saya pikir, keluarga saya masih sedikit lebih beruntung dibandingkan dengan mayoritas teman-teman penerima bidikmisi lainnya. Saya pikir, kehidupan keluarga kami masih dapat dikatakan layak (secara sederhana, tentu saja). Dan mungkin fakta itu juga yang membuat saya “ditolak” sebanyak dua kali oleh panitia seleksi Bidik Misi IPB di angkatan saya. Saya baru dinyatakan sebagai penerima Bidik Misi di gelombang penerimaan yang ketiga, gelombang yang terakhir. Tentu saja, saya merasa sangat bersyukur karenanya. Bidik misi menghapus 100% kekhawatiran saya tentang ancaman ketidaklancaran studi (berkenaan dengan ihwal kewajiban administrasi).

Dengan sedikit latar belakang yang saya ceritakan tadi, tentu saja, makna bidikmisi bagi saya adalah priceless! tak ternilai! Tak pernah terbayangkan dalam benak saya sebelumnya bahwa saya bisa bersekolah di universitas sekelas IPB tanpa mengeluarkan uang serupiah pun! Tak pernah terbayang pula dalam benak saya, bagaimana ibu harus memutar otaknya lebih keras menyisihkan gaji bapak yang tak seberapa tadi untuk uang saku dan biaya kuliah saya jika saya tak berjodoh dengan bidik misi ini –walaupun ibu kala itu selalu meyakinkan saya bahwa semua (studi saya) akan baik-baik saja dengan atau tanpa bidikmisi. Karenanya, terimakasih bidikmisi, sungguh terimakasih.

Akhirnya, nyaris empat tahun berlalu. Alhamdulillah, puji syukur tak henti-hentinya saya hadiahkan ke hadirat-Nya, saya berhasil menyelesaikan studi S-1 saya di kampus rakyat ini. Terlebih, saya lulus dengan transkrip yang hanya memuat satu huruf saja, A. Benar, saya lulus dengan IPK 4.00. Saya dedikasikan pencapaian saya ini kepada orang tua saya, Bapak Sularjo, Ibu Asih Indarti, dan tentu saja kepada Bidik Misi.

Setelah resmi menyandang gelar sarjana, rencana saya kedepan adalah sesegera mungkin mendapatkan pegangan. Pegangan dalam artian dua, yakni mendapatkan kepastian untuk melanjutkan studi jenjang master –yang memang saya mimpikan di luar negeri– sesegera mungkin, atau bekerja. Sebab saya masih punya tanggungan satu adik untuk dikuliahkan kelak. Kalau boleh saya bercerita, harapan saya dapat berkarya di lembaga bonafit yang memungkinkan staff nya untuk melanjutkan studi. Jika ditanya lebih spesifik, saya bermimpi untuk berkarya di OJK (Ototritas Jasa Keuangan), sebab OJK adalah lembaga negara dan bidang keilmuannya relatif linear dengan latar belakang keilmuan saya (Finance, actuarial math). Sebab tentu saja, saya masih pemuda yang sama dengan pemuda empat tahun lalu yang ingin melanjutkan studi ke tingkat yang lebih tinggi, pemuda yang haus akan ilmu!

Keterbatasan tak akan menghentikan sebuah tekat dan keinginan yang kuat, jika kita yakin kita bisa. dengan niat dan kesungguhan, pasti keberhasilan akan datang.
Dari situlah, mari kita belajar dari kehidupan orang lain yang pernah sukses, kita belajar dari mereka apa yang membuat mereka sukses, dan kita terapkan agar kita bisa menjadi lebih baik dan menjadi orang yang lebih berhasil dari sebelumnya.


Regards,
wartaipb.com

Dikutip:
https://pararawendy.wordpress.com/2015/06/19/pararawendy-bidikmisi-dan-mimpi-pasca-kampus/
https://www.youtube.com/watch?v=nh_DKONPmcI

Kamis, 06 Agustus 2015


wartaipb.com, kali ini kami tertarik dengan salah satu bidang yang satu ini, ya bidang IT. siapa yang g tau bidang IT yang familiar dengan kata "Programmer" ya. kali ini kita bahas disini.
kami akan menelusuri lulusan IPB yang satu ini, telah lama mendalami bidang web programming dan akhirnya sekarang membuat sebuah Media agency digital, sama halnya dengan yang lain. hanya saja yang mereka kerjakan disini adalah beberapa proyek perancangan suatu website untuk berbagai macam instansi, baik pemerintahan, sekolahan, perusahaan, maupun perorangan yang ingin memiliki sebuah website.
     Semakin berkembangnya jaman menjadi jaman teknologi, banyak yang memanfaatkannya sebagai ladang bisnis, semisal, banyak diantara perorangan yang ingin membuat website jenis e-commerce, atau bisa disebut toko online. apa yang mereka manfaatkan dari toko online? dengan toko onlin mereka bisa berjualan secara online, semua biaya ditransfer dan pemilik toko tinggal mengirim barang sesuai alamat yang tercantum. semua menjadi lebih mudah dengan teknologi.
   Nah, disinilah peran mediasoft indonesia, mediast indonesia itu apa ? mari kita berkenalan.
Mediasoft Indonesia,  merupakan rumah media digital agency yang bisa support untuk perancangan web design, web development, animasi 3D dll. disinilah peran utama mediasoft indonesia dengan alamat website :http://mediasoft.id/ mereka menjembatani para pemilik toko yang ingin membuat toko online, mereka menyediakan konsultasi terlebih dahulu apa yang ingin mereka buat kepada tim mediasoft. setelah itu baru perincihan biaya untuk membangun sebuah aplikasi website tersebut. setelah semuanya deal dan oke. baru tim dari mediasoft menggarapnya. setelah semuanya selesai baru tim programming merilis website tersebut ke media.
tidak dipungkiri bahwa media sekarang menjadi hal yang tidak bisa diabaikan, karena banyak toko online yang menjamur, namun yang benar menjadi trending dan nomor satu di indonesia. tetap tidak bisa diabaiakan bahwa kualitas dan kepercayaan pelanggan yang tetap menjadi yang utama.
Ujar Tim dari Mediasoft Indonesia".

So, bagi kalian yang ingin membuat website sendiri, atau membutuhkan animasi 3D bisa langsung kontak Mediasoft Indonesia, disana tim siap melayani dengan sepenuh hati.
Apa yang membuatnya berbeda dengan yang lain. Kenapa kami unik dan berbeda dengan yang lain ? karena apa yang kami buat telah menjadi berbagai brands unik dan inovatif diberbagai Industri.
MEDIASOFT INDONESIA - WEB DESIGN, WEB DEVELOPMENT, 3D ANIMASI.
http://mediasoft.id/


Regards,
wartaipb.com


Minggu, 05 Juli 2015

Masih ingat dengan pelajaran sekolah ini budi, ini ibu budi ?
Itu merupakan pelajaran sekolah dasar kelas 1 denga judul belajar membaca dan menulis bukan,
jika kalian masih ingat, coba ingat jasa guru kalian waktu sd dan sekarang kontak beliau, tanyakan kabarnya jika sekarang kamu sudah duduk dikantor dengan gaji yang besar, ataupun memimpin rapat senat yang besar. karena tanpa mereka anda tidak akan bisa jadi seperti sekarang ini.
termasuk seorang presiden sekalipun.


Kali ini om warta akan membahas tentang g jauh-jauh sama sejarah pendidikan indonesia, dimulai dari sekolah dasar. tahukan yang kita bahas tadi, seputar masih ingat dengan Ibu budi dan bapak budi.
siapa mereka ? Bukan, Ibu dan bapak budi adalah ciptaan Ibu Siti rahmani rauf , beliau adalah pembuat buku dan pencipta metode yang dikenang sepanjang masa tersebut.

Siti rahmani rauf Pencipta: “Ini Budi, Ini Ibu Budi, Ini Bapak Budi…”

Dikutip :
aaaaEramuslim.com – Ini Budi. Ini Ibu Budi. Ini Bapak Budi. Ini Wati Kakak Budi. Ini Iwan Adik Budi.
Bagi mereka yang mengenyam pendidikan sekolah dasar di era tahun 80-an hingga pertengahan 90-an, mata pelajaran kelas satu SD mungkin akan selalu mereka ingat. Berkat metode pembelajaran bahasa yang sekaligus menggunakan alat peraga, yang disebut Struktur Analitik Sinyesis (SAS) Bahasa Indonesia terasa menyenangkan.
Adalah Siti Rahmani Rauf, wanita asal Sumatera Barat yang menciptakan metode SAS dalam pelajaran Bahasa Indonesia kelas satu. Metode tersebut diciptakannya sekitar awal tahun 1980, setelah dirinya pensiun sebagai guru.
Usianya yang sudah menginjak angka 96, membuatnya kesulitan untuk mengingat sejarah penciptaan metode SAS. Salah satu hal yang diingatnya, dia diminta membuat metode SAS oleh rekannya, yang juga seorang guru.
“Wah, nenek agak lupa. Yang nenek ingat, waktu itu metode itu belum ada,” ujar Rahmani Rauf kepada merdeka.com saat ditemui di rumahnya di kawasan Petamburan, Tanah Abang,Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.
Anak nomor enam Rahmani Rauf, Kamerni Rauf menjelaskan, saat itu buku peraga belum ada, namun buku paket Bahasa Indonesia telah ada. Buku peraga diperlukan untuk mempermudah dalam membaca dan menulis.
“Jadi buku paket ‘Ini Budi’ sudah ada. Si Budi itu bukan mami yang buat. Yang belum ada itu buku peraga membacanya,” kata Kamerni ketika dihubungi merdeka.com.
“Buku peraga Ini Budi dibuat sekitar 80-an,” kenang Erni.
Kamerni menjelaskan, ibunya, Rahmani Rauf ditawarkan mengerjakan buku peraga oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Rahmani Rauf yang mendapat tawaran ini langsung mengiyakan.
“Waktu itu mami langsung mengiyakan. Waktu ngerjain buku peraga itu, mami sudah pensiun mengajar,” jelas Erni.
Erni menambahkan, saat mengerjakan buku peraga ‘Ini Budi’, dirinya telah menjadi seorang guru. Menurutnya buku peraga itu sangat membantu murid cepat membaca.
“Bukan karena mami saya yang membuatnya ya, jadi saya bilang seperti itu. Hal itu saya dapat dari pengalaman saya mengajar kelas 1SD selama 37 tahun,” ujar Erni.
Di luar dugaan, buku peraga ‘Ini Budi’ sukses dan diminati banyak sekolah, tidak hanya di Jakarta, juga di kota lain di Indonesia. Oleh penerbit, Rahmani Rauf kemudian diberangkatkan haji.
“Mami tahun 86 diberangkatin haji sama penerbit. Waktu buat buku peraga itu, mami tidak pernah minta bayaran. Mami mau ngerjakan proyek itu karena kecintaannya pada dunia pendidikan,” ujar Erni.(rz/merdeka)

Regards,
wartaipb.com